Beberapa minggu ini kita telah belajar bahwa komunikasi yang baik dan sehat itu perlu dijaga dan dikembangkan, terlebih di dalam keluarga Kristen. Kita harus menjaga lidah / perkataan kita, supaya dengan lidah kita, kita dapat membangun pasangan kita, anak-anak kita, dan anggota keluarga yang lain. Komunikasi di dalam keluarga adalah sesuatu yang vital. Hubungan pernikahan tidak dapat mengalami keintiman, akrab, mesra dan hangat tanpa adanya komunikasi.
Alangkah indahnya apabila sepasang suami – isteri memiliki hubungan komunikasi yang baik, lancar, tanpa hambatan. Karena keluarga yang bahagia, dapat dicapai apabila ada komunikasi yang baik. Kalau komunikasi dalam keluarga rusak, maka akan menimbulkan konflik dan kehancuran, dan bahkan bisa berujung pada perceraian. Ini yang terjadi di taman Eden: ketika Adam dan Hawa “kehilangan” komunikasi maka dosa mulai lahir. Hawa justru mulai menjalin komunikasi dengan “ular”.
Mengapa ada pasangan suami – isteri terkadang sulit berkomunikasi? Hal penting yang harus dibangun adalah “rasa aman”. Masing-masing akan merasa aman ketika ia berbicara dengan pasangannya; tidak merasa dihakimi, direndahkan, atau hal lainnya. Ini yang Tuhan ajarkan kepada kita dalam Mazmur 116 : 1 – 2, “Aku mengasihi TUHAN, sebab Ia mendengarkan suaraku dan permohonanku, sebab Ia menyendengkan telinga-Nya kepadaku, maka seumur hidupku aku akan berseru kepada-Nya.” Mengapa pemazmur katakan ia akan berseru (berbicara) kepada Tuhan seumur hidupnya? Karena Tuhan selalu mendengarkannya, ia merasa aman ketika berbicara dengan Tuhan dalam keadaan apapun, dan Tuhan sellau menyediakan telinga-Nya untuk mendengarkannya.. Kondisi seperti inilah yang harus dibangun antara suami dan isteri, sehingga dapat tercipta komunikasi yang lancar diantara keduanya.
Pertanyaan Untuk Direnungkan:
- Mengapa pemazmur mau selalu berbicara kepada Tuhan seumur hidupnya? (Mzm. 116 : 1 – 2)
- Kebenaran apakah yang Anda dapat melalui ayat ini?
BACAAN ALKITAB SETAHUN: 2 Tawarihk pasal 11 – 14
“Hubungan pernikahan tidak dapat mengalami keintiman, akrab, mesra dan hangat tanpa adanya komunikasi. “