Ada beberapa sebab mengapa seorang Kristen tidak berani mengakui bahwa ia sudah percaya Tuhan dan menjadi milik Tuhan. Pertama, mereka beralasan bahwa tidak perlu mengaku dengan mulut, cukup dengan perbuatan baik. Ini adalah pemikiran yang salah, yang harus kita betulkan. Kita tidak mengatakan bahwa perubahan perbuatan (tingkah laku) itu tidak perlu. Tetapi jika perbuatan kita sudah berubah, namun mulut tidak mengaku, itu juga tidak berguna. Perubahan tingkah laku, sekali-kali tidak bisa menggantikan pengakuan mulut kita. Walaupun setelah percaya, perbuatan sudah berubah, tetap masih perlu mengakui Dia dengan mulut.
Kedua, ada juga orang yang berpendapat, “Jika aku mengaku dengan mulut, tetapi kemudian aku tidak awet menjadi orang Kristen, bukankah akan ditertawakan orang? Bila kemudian hari aku sudah stabil, barulah aku mengaku.” Jika kita ingin menunggu perbuatan kita baik dulu baru membuka mulut, maka seumur hidup, kita tidak akan dapat membuka mulut, kita akan membisu seumur hidup. Ketiga, ada orang tidak berani mengaku, alasannya: ia takut kepada orang. Bagi orang yang demikian, dengarkanlah firman Tuhan, “Takut kepada orang mendatangkan jerat” (Amsal 29:25). Ketakutan adalah jerat kita.
Keempat, ada orang tidak mau mengaku disebabkan karena malu. Ia merasakan menjadi orang Kristen itu memalukan. Kita harus menyingkirkan perasaan ini. Ketika Tuhan menanggung dosa kita di kayu salib, sesungguhnya Dia telah menerima “rasa malu” yang sangat besar. Rasa malu yang kita terima hari ini sangat kecil bila dibandingkan dengan rasa malu yang Tuhan terima di salib. Kelima, ada pula orang Kristen yang tidak mau mengakui Tuhan disebabkan mereka tamak akan kemuliaan dari manusia, melebihi kemuliaan dari Allah. Mereka mau Kristus, juga mau kemuliaan manusia. Orang yang demikian pasti tidak mutlak.
Pertanyaan Untuk Direnungkan:
- Apa yang firman katakan tentang orang yang mau mengakui Tuhan di hadapan manusia? (Mat. 10 : 28)
- Hal apa yg sering membuat Anda takut untuk menyaksikan Tuhan?
BACAAN ALKITAB SETAHUN: Mazmur pasal 128 – 134
”Perubahan tingkah laku, sekali-kali tidak bisa menggantikan pengakuan mulut kita.”